Pengampunan Dalam Relasi Keluarga

Pengampunan Dalam Relasi Keluarga

Khotbah : Pdt. Petrus Soeganda

Jangan pernah menyimpan rasa sakit hati di dalam hati, sebab kepahitan yang dipelihara hanya akan merusak damai sejahtera, mengeraskan jiwa, dan menghalangi pertumbuhan rohani kita. Terlebih lagi jika luka itu datang dari orang-orang terdekat, bahkan keluarga sendiri, karena hubungan yang seharusnya menjadi tempat kasih justru bisa berubah menjadi sumber beban yang berat. Tuhan memanggil kita untuk belajar mengampuni, melepaskan, dan memilih berdamai, bukan demi membenarkan kesalahan orang lain, tetapi demi memulihkan hati kita sendiri agar tetap bebas, sehat, dan mampu mengasihi dengan tulus.

Kejadian 33 : 1-4
(1) Yakub pun melayangkan pandangnya, lalu dilihatnyalah Esau datang dengan diiringi oleh empat ratus orang. Maka diserahkannyalah sebagian dari anak-anak itu kepada Lea dan sebagian kepada Rahel serta kepada kedua budak perempuan itu. (2) Ia menempatkan budak-budak perempuan itu beserta anak-anak mereka di muka, Lea beserta anak-anaknya di belakang mereka, dan Rahel beserta Yusuf di belakang sekali. (3) Dan ia sendiri berjalan di depan mereka dan ia sujud sampai ke tanah tujuh kali, hingga ia sampai ke dekat kakaknya itu. (4) Tetapi Esau berlari mendapatkan dia, didekapnya dia, dipeluk lehernya dan diciumnya dia, lalu bertangis-tangisanlah mereka.

Esau melepaskan pengampunan kepada Yakub (Orang yang merampas Hak Kesulungannya)

Kejadian 27:41 (TB)
Esau menaruh dendam kepada Yakub karena berkat yang telah diberikan oleh ayahnya kepadanya, lalu ia berkata kepada dirinya sendiri: ”Hari-hari berkabung karena kematian ayahku itu tidak akan lama lagi; pada waktu itulah Yakub, adikku, akan kubunuh.”

Kejadian Kain dan Habel bisa membuat orang-orang belajar tentang yang namanya *Hukum Tuhan* (Akan dibalas 7X lipat)

Kejadian 4 :13-15
(13) Kata Kain kepada Tuhan: ”Hukumanku itu lebih besar dari pada yang dapat kutanggung. (14) Engkau menghalau aku sekarang dari tanah ini dan aku akan tersembunyi dari hadapan-Mu, seorang pelarian dan pengembara di bumi; maka barangsiapa yang akan bertemu dengan aku, tentulah akan membunuh aku.” (15) Firman Tuhan kepadanya: ”Sekali-kali tidak! Barangsiapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat.” Kemudian Tuhan menaruh tanda pada Kain, supaya ia jangan dibunuh oleh barangsiapa pun yang bertemu dengan dia.

Kita harus juga belajar mengampuni

  1. Perjalanan waktu membuat orang lebih dewasa
  2. Tidak baik menyimpan sampah (kebencian)
  3. Kalau ada niat pasti akan berubah (Esau juga mengalami berkat Tuhan – Ingat janji Tuhan kepada Abraham)

Kejadian 27 : 38-40
(38) Kata Esau kepada ayahnya: ”Hanya berkat yang satu itukah ada padamu, ya bapa? Berkatilah aku ini juga, ya bapa!” Dan dengan suara keras menangislah Esau. (39) Lalu Ishak, ayahnya, menjawabnya: ”Sesungguhnya tempat kediamanmu akan jauh dari tanah-tanah gemuk di bumi dan jauh dari embun dari langit di atas. (40) Engkau akan hidup dari pedangmu dan engkau akan menjadi hamba adikmu.  Tetapi akan terjadi kelak, apabila engkau berusaha sungguh-sungguh, maka engkau akan melemparkan kuk itu dari tengkukmu.

Hidup harus ada perubahan : BERUSAHA SUNGGUH-SUNGGUH

Bukti dari Esau yang mengalami perubahan Kejadian 33
(8) Berkatalah Esau: ”Apakah maksudmu dengan seluruh pasukan, yang telah bertemu dengan aku tadi?” Jawabnya: ”Untuk mendapat kasih tuanku.” (9) Tetapi kata Esau: ”Aku mempunyai banyak, adikku; peganglah apa yang ada padamu.” (10) Tetapi kata Yakub: ”Janganlah kiranya demikian; jikalau aku telah mendapat kasihmu, terimalah persembahanku ini dari tanganku, karena memang melihat mukamu adalah bagiku serasa melihat wajah Allah, dan engkau pun berkenan menyambut aku. (11) Terimalah kiranya pemberian tanda salamku ini, yang telah kubawa kepadamu, sebab Allah telah memberi karunia kepadaku dan aku pun mempunyai segala-galanya.” Lalu dibujuk-bujuknyalah Esau, sehingga diterimanya.

Tuhan Yesus memberkati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *